Dan aku sendirian…

“kadang, tulisan yang dianggap menusuk oleh sebagian orang, lahir dari patah hati yang bikin kepayang”

Senja tanggal dua puluh lima, hatiku mengacau lagi untuk kesekian kali (entahlah aku sampai lupa berapa kali). Padahal hanya perkara mendengar sebuah lagu yang membawa ingatanku kepada satu tanggal ketika kita masih bersama; dulu lebih tepatnya. Sebuah lirik lagu yang dulu pernah kita dendangkan bersama saat berjalan bergandengan tangan membelah rinai hujan. Kau yang dulu begitu kusanjung kini hanya tinggal menjadi kenangan buntung yang sakitnya kadang membuat hati kerkabung.

Kamu pergi karena salahku, begitu katamu. Aku mencoba menepis semua itu, awalnya. Tapi makin hari, aku mengiyakan apa yang kau katakan adalah benar adanya. Semua makin yang kau ucapkan ternyata adalah fakta yang selama ini kututupi dengan ego yang kuberi makan hingga menjadi besar. Aku tak menyalahkanmu ketika kau beranjak berlalu. Aku menyalahkan diriku dan egoku yang perlahan menggerus cintamu. Aku menyalahkan isi kepalaku yang ternyata membentur hatimu terlalu keras. Kupikir semua yang kulakukan adalah yang terbaik untuk kau dan aku; untuk kita. Tapi aku salah. Apa yang menurutku terbaik ternyata tidak untukmu.

Andaikan kau paham, pernah merasakan kehilangan yang begitu mendalam kadang membuat seseorang melakukan apapun untuk bertahan. Bertahan untuk membela diri sehingga membuat perdebatan-perdebatan yang membenturkan persepsi yang ujungnya saling menyakiti. Perbedaan pandangan membuat lemparan kata-kata tajam yang menggerus perasaan. Padahal asal kau tahu, itu kulakukan hanya untuk menjagamu lebih mendalam.

Terima kasih untuk pernah ada. Mengisi hari-hariku dengan tawamu yang begitu sederhana. Terima kasih untuk pernah menemani. Mengiringi hari dengan senyum yang menenangkan hati. Terima kasih untuk pernah menjadi pemberi bahagia walau hanya sebentar saja.

Terima kasih pernah menjadi tempat untuk berbagi pelukan ketika dunia berusaha menjatuhkan. Terima kasih atas semua upaya yang pernah dilakukan untuk menua bersama.

Dan ini aku yang sedang berada ditempat bernama kubangan kenangan. Berada di sudut ruangan melihat sekeliling bahwa kau tak lagi ada. Memilih duduk menyindiri, memeluk sepi. Merutuki diri bahwa semua kesalahanku sudah tak bisa kau ampuni hingga kau memilih berlalu. Meninggalkan lubang dan aku sendirian.

Bandung, 15 Juni 2017

Francesco Satria

Aku Tetaplah Aku…

Senja memagut hujan di tanggal dua puluh delapan kali ini. Langit kemerahan bercampur rinai hujan menjadi teman secangkir kopi hitam. Kopi itu berusaha kusesap perlahan, menikmati pahit yang melewati tenggorokanku, seraya memejam mata, membayangkan ragamu duduk disampingku sambil tersenyum penuh cinta. Ah senyum itu.

Aku rindu senyum itu. Senyum istimewa dengan pemilik bernama kamu. Lengkungan dibibirmu menjadi awal dimana cerita masa lalu ini dimulai. Senyum sederhana yang ternyata membuat kupu-kupu di dalam perutku terbang tak karuan. Senyum yang membuat kepalaku mabuk kepayang yang membuat diriku sempoyongan. Senyum yang ternyata membuatku jatuh ke dalam kubangan cinta. Senyum itu pula yang membuatku patah. Patah, parah, tak berdarah, tapi sakitnya mengacaukan semua arah.

Sejak senyum itu menguap entah kemana, aku termenung untuk waktu yang cukup lama. Memutar semua kembali memori untuk mencari tanggapan atas dasar apa kau pergi. Mencari sisa-sisa jawaban untuk mendiamkan hati yang merengek tak karuan.

Membaca ulang setiap kata yang kau tuangkan dalam percakapan terakhir hari itu. Hari dimana kau memilih menyerah atas segala lelah yang kita lalui bersama. Hari dimana aku harus memilih kalah atas semua cerita perjuangan yang kupikir berakhir kemenangan; bahagia berdua lebih tepatnya. Hari dimana resah menjadi sosok yang menemani kesendirian. Hari dimana rindu akhirnya memeluk dirinya sendiri. Hari dimana semua rasa sakit tak terkira ini tiba.

Aku terjerembab di setiap pandangmu yang memendam luka tapi mampu kau tutupi dengan tawa. Aku terhempas dalam setiap impian yang kita aminkan setiap berlutut meminta pengampunan pada pemilik kehidupan. Aku terjungkal dalam pelukan yang kukira membuatku nyaman, nyatanya malah menjadi bumerang.

Tapi aku tetaplah aku. Yang mencintaimu secara senantiasa walau luka menjadi dera utama yang memaksa untuk melupa. 

Bandung, 22 Mei 2017

Fakultas Filsafat Universitas Katholik Parahyangan, 17:24

Francesco Satria

Tapi Percayalah, Aku Tak Apa…

Teruntuk kamu, sesosok pembeda, yang tak mau lepas dalam angan,

Aku mencintai celotehan-celotehan manja dan berbagai candaan kita, mencintai gelagatmu ketika diam memikirkan soal yang membuat otakmu mimisan katamu yang memecah gelak tawaku. Mencintai setiap detik yang kita lalui bersama sampai akhirnya kau memilih menyerah begitu saja.

Pada senja yang selalu kucinta dan pada ribuan dentuman rindu yang tak lagi menjadi sebuah misteri, dengan cintamu aku merasa ada; nyata juga bahagia. Semua rindu yang tertera dalam setiap bait puisi yang tak mampu aku sampaikan secara terang-terangan kepadamu, harapanku cuma satu; semoga kau menyadari siapa sosok dibalik lahirnya puisi-puisi itu. Iya, kamu.

Di dalam hiruk pikuk bisingnya rindu yang menggema di kepala, kamu datang sebagai pelepas pilu. Asal kau tahu, ragamu, adalah pereda rindu yang selalu sendu. Senyummu adalah ibu dari segala sajak yang kata orang terlalu sesak. Pelukmu adalah penenang di ujung hari ketika lelah menjadi pemenang. Segalamu adalah canduku.

Aku bukan pujangga yang mampu membuatmu mabuk karena puisi cinta, aku hanya seorang penenun rindu yang menjadikanmu sebagai sosok sentral di dalamnya.

Kau acap kali dapat membuat jemariku menari diatas papan aksara, membentuk sebuah cerita sederhana. Acap kali membuat mulutku menyanyikan lagu cinta yang kata orang suaraku sumbang tak karuan. Acap kali membuat hatiku melantunkan doa kepada kuasa agar aku menjadi alasan kau berbahagia.

Namun, aku akhirnya terbangun dalam nostalgia yang mendistorsi kenyataan; bahwa kau tak lagi ada. Memaksa mataku membuka bahwa semua tak lagi sama, bahwa tak ada kau duduk disampingku lagi untuk bercerita tentang hangatnya senja. Tapi percayalah, aku tak apa. Aku masih bisa menghadapi dunia walau dengan keadaan tidak biasa. Aku tak apa. Sungguh.

Bandung, 7 Mei 2016

14.04

Francesco Satria

Hai Penikmat Senja yang Sudah Tiada

(sebelum membacanya, dengarkan Jason Chen-Just A Dream terlebih dahulu)

Hai apa kabar? Sebuah pertanyaan konyol yang tak mampu ku sampaikan kepadamu untuk kesekian ribu kali dan hanya menjadi penghias dalam kotak keluar ponselku. Lagi dan lagi mulutku kelu untuk sekedar menyapamu, padahal dulu jangankan menyapa, memelukmu pun aku biasa. Ah maafkan aku kembali mengingat masa dimana kita menjadi tokoh utama. Ijinkan aku menulis sesuatu untuk rindu yang semakin membengkak biru ini, semoga bisa menjadi sedikit meredakan sesak yang menggebu.

Seracik tulisan tak bertuan yang mewakilkan luka yang tak pernah sekalipun kau anggap ada, namun jemariku masih terlalu candu untuk merangkainya. Untukmu. Tulisan yang acak-acakan yang lahir setelah kau memilih meninggalkanku dulu di belakang. Sendirian. Susunan kata yang menceritakan sepenggal kisah dimana ada seorang yang mencintaimu dengan diam. Dan begitu dalam.

Dahulu kau menjadi pelaku utama dalam tiap bait puisi manis cinta yang tercipta, dan begitupun sekarang juga. Walaupun kata puisi manis itu harus berganti menjadi puisi kritis, miris lebih tepatnya. Miris karna kata bahagia, menjadi kata duka. Puisi miris yang menceritakan sakit yang tak kunjung hilang karena kau tinggalkan.

Hai penikmat senja, andai suatu hari nanti kau sempat membaca tulisan-tulisan sederhanaku (aku berdoa bahkan memaksa Tuhan semoga terbaca oleh mata hitammu itu) agar setidaknya luka-luka rindu bisa kau peluk dalam doa. Mendoakan kebahagiaanku. Ah padahal bahagiaku itu kamu. Bahagiaku itu duduk bersama, menikmati senja berdua, sampai menua. Dengan kamu di dalamnya.

Aku ingin kau tau bahwa aku masih menginginkanmu, merindukanmu, menyebut namamu diam-diam dalam doa setiap malam datang. Ah maaf aku berharap layaknya punuk merindukan bulan, karena kau sudah bahagia dengan seorang lainnya. Karena hanya melihat garis senyummu, duduk bersamamu seperti dulu, semuanya terasa sempuna.

Maaf aku disini masih mencintaimu dengan begitu. Maaf aku menyisipkan kata selalu untuk mencintaimu, Maaf aku memaksa kata terlalu untuk merindukanmu.

Bandung, 25 April 2017 pukul 11:09

Mcd. Buah Batu, Bandung

Francesco Satria

Mengikhlaskanmu Aku Tak Kuasa, Sementara Menggengam Tanganmu Aku Tak Berdaya

Diriku masih menyimpan sejuta tanya,

Perihal mengapa dulu kau meninggalkanku berlalu begitu saja, padahal kita pernah duduk bersebelahan, memanjat sebuah doa; bahagia bersama.

Dirimu menghilang tanpa rasa dosa, padalah kamu pernah mencariku hingga sakit kepala. Dirimu melupakanku tanpa ampun, padahal kamu pernah menghimpun rindu hingga rimbun.

Beri tahu aku, bagaimana cara menghapus jejakmu di dalam bayanganku, bagaimana cara untuk menyuruh kepalaku diam sementara pikiranku terus meneriakkan namamu berulang kali tanpa ada rasa bosan menghantui.

Aku masih bertanya pada isi kepalaku sendiri; Mengapa kamu bisa berjalan sendirian setelah melepasku tanpa kelimpungan, padahal dulu kamu selalu menggengam tanganku ketika berjalan beriringan.

Mengapa kamu bisa tertawa tanpa pernah terlihat sedikit pun terluka selepas aku tiada lagi menjadi bagian ceritamu, padahal dulu diriku adalah alasan tawamu tercipta? ah masa iya? tanyaku pada kepalaku sendiri.

Beri aku sebuah jawaban atas tanda tanya yang tak pernah menemui pasangannya di ujung jalan. Beri aku sebuah cara untuk menjawab rindu yang semakin membiru ketika malam mulai menjemput senjaku. Beri aku sebuah cara untuk membantai kenangan agar segera hilang dalam pekatnya malam.

Dan akhirnya ini aku; yang memutuskan membabi buta menyerang rindu lewat rentetan aksara. Menuliskan sejumput puisi sederhana tanpa pernah sekalipun berharap kau akan membacanya, Menyusun deretan kata-kata hanya untuk memberi hiburan kepada rindu yang terus menggerus kepala.

Melupakanmu aku tak mampu , sementara lalumu semakin membuat sendu. Mengikhlaskanmu aku tak kuasa, sementara menggengam tanganmu aku tak berdaya.

Aku merindukanmu; secara senantiasa, walaupun untukmu, diriku cuma sekedar pengganggu yang didaftar hitamkan untuk dimusnahkan. Juga dilupakan.

Bandung, 21 April 2017

Francesco Satria

Dan, ini Aku..

Senja di Bandung tergerus untuk kesekian kali. Diguyur rintihan semesta yang mengerang dengan lantang. Dan untuk kesekian kalinya, aku terjerumus lagi. Terjerembab dalam luka yang kukira sudah mereda, nyatanya masih menyisakan sisa-sisa perih yang tak terkira ketika melihat rintihan-rintihan semesta. Rintihan yang membawa lagi ingatan ke masa lalu dimana kamu yang menjadi pusat segala cerita dengan cetak tebal BAHAGIA. Ya. Bahagia.

Maaf jika aku terlalu mendamba kamu untuk menua bersama. Maaf jika aku terlalu bermimpi tinggi bahwa aku ini orang yang kau pilih untuk mendampingi sampai nanti. Maaf jika aku terlalu berangan-angan jika tanganku adalah tangan yang kau pilih untuk bergandengan hingga keriput menyerang.

Kamu yang kupuja, sekarang hanya menjadi sebuah seonggok cerita luka yang membuat menderita. Membuat desiran dada berguncang tak terkira ketika melihatmu tertawa bersamanya. Ah aku lupa, bahagiamu adalah tanpaku di dalamnya. Bahagiamu adalah melepaskanku dulu. Iya kan?

Aku tak menghakimimu. Aku tak akan memakimu. Karena ini salahku yang terlalu berharap bahwa mengganggap kamu menjadi ujung akhir cerita yang kuberi judul bahagia, nyatanya sekarang menguap, menghilang bersama ribuan kenangan yang memekikan luka. Maaf ya. Maaf jika aku memberi judul diawal cerita kita adalah bahagia bersama.

Aku menumpahkan luka dalam rentetan aksara yang kurangkai, menjadi pelipur lara untuk membius diriku akan sisa-sisa kisah sedih yang tak kunjung kembali seperti sedia kala. 

Kembali ke masa ketika kau dan aku bukan apa-apa. Ketika kau dan aku hanya tertawa selayaknya teman biasa.

Jika saja kamu tau, setiap malam dalam pekatnya langit hitam, aku berusaha melupakanmu secara perlahan. Menghapus setiap jengkal kenangan yang membuat sendu menjadi pemenang dalam kalbu. Menggerus namamu yang tak mau luput di dalam kepalaku. Mengusir rindu yang ternyata hanya sebuah ilusi semu pembawa pilu.

Dan inilah aku, dengan sejumput kisah rindu yang datang bersama berisiknya cerita semesta diluar sana.

Bandung, 9 Maret 2017

Francesco Satria

Senja tadi…

Senja tadi, bayangmu datang menghamipiri- lagi. Untuk kesekian kali. Setelah ribuan detik aku lewati hanya untuk meratapi diri. Berupaya tersenyum dalam diam dari semua angan dan ingatan tentangmu. Tentang kita di masa lalu. Tentang genggaman jarimu saat merintih kedinginan saat menerjang hujan. Tentang riak kecil ledekanmu saat tawa sedang menjadi pemeran utama. Tentang semua mimpi-mimpi yang pernah diucapkan di dalam sendu bibirmu yang dulu menjadi candu untukku.

Senja tadi, pikiranku menjadi waras lagi. Mencoba menerima kenyataan bahwa kau telah pergi dan menyisakan bayangan kelam yang tak kunjung; lebih tepatnya tak mau padam. Tidak ada lagi obat pereda candu yang kutemukan setiap ku kecup bibirmu. Karena kamu telah berlari, berlalu, menjauh bersama sebuah tanda tanya yang menghantui.

Senja tadi, untuk kesekian ribu kali, aku merindumu kembali. Mencoba memutar kembali semua asa yang pernah kita doakan bersama. Tentang genggaman tangan dalam menyampaikan lantunan doa kepada semesta, meminta agar bahagia menjadi ujung cerita. Meminta agar setiap jalan selalu bergandengan. Tentang banyak hal di waktu itu yang membuat kamu dan aku menjadi sebuah cerita sederhana yang membuat iri banyak pemain cinta lainnya. Tenggelam dalam tawa dan pelukan sukacita.

Senja tadi aku tertampar untuk kesekian kali. Tamparan yang memaksa membuka mata bahwa kau benar-benar sudah tidak ada. Tamparan yang membuatku sadar bahwa aku sekarang hanya sebatang kara. Tertatih membawa ribuan ton rindu dan luka. Sendirian. Tanpa kawan. Tanpa kamu dalam sandingan. Tanpa senyum yang selalu menyejukan pelukan. Tanpa rona pipimu yang memerah saat tersipu malu karena dicemooh teman-temanmu. Tanpa hangatnya lenganmu yang membuat nyaman saat seisi semesta berusaha menyerang yang membuatku ketakutan.

Senja ini aku melihatmu untuk kesekian kalinya lagi. Menyetel sebuah sunggingan dan lengkungan bibir yang memar. Memar karena kehilangan obat pereda candu. Berusaha memalingkan kalut dan kesedihan yang menggerogoti hati. Berusaha tertawa padahal hati menyeruak perih tak karuan.

Karena, apa yang paling menyedihkan, ketika dirimu bergelak tawa di depan orang yang dulu kau cinta, padahal sekarang kamu bukan jadi pemeran utama di hatinya?

Bandung, 15 Desember 2016

Lagi gabut dan malas belajar jadi nulis aja,

Francesco Satria