Jadi Apa Itu Rindu?

#nowplaying Maroon 5 – Never Gonna Leave This Bed

Ini sebuah cerita tentang kerinduan yang tiba-tiba saja datang. Menggerus secara pelahan, mengikis pertahanan, merusak perjuangan untuk melupakan.

Ini sebuah cerita bagaimana sebuah lagu yang tak sengaja terdengar mampu menarik kembali kenangan ketika sepasang jemari 2 anak manusia saling bertautan. Memutar kembali ingatan akan sebuah waktu dimana sebuah perasaan yang meluap dan membenamkan sebuah hangatnya bibir ketika berpagutan.

Kerinduan akan bagaimana sebuah pelukan mampu menyamarkan beban. Kerinduan bagaimana sebuah lengkungan mampu menenteramkan. Kerinduan bagaimana sebuah genggaman mampu meyakinkan.

Sebuah lelucon dimana kelucuan bahwa semua itu sekarang hanya menjadi sebuah pernah tanpa bisa dikembalikan. Sebuah candaan ketika

Sebuah rindu yang tak berani diungkapkan hanya demi sebuah ketenangan. Demi menjaga perasaan. Katanya.

Kerinduan yang menyengat, perasaan yang membucah dengan begitu dahsyat, perlahan membiru dalam sebuah harapan yang menginginkan temu tapi hanya bertemu dibatas sebuah kata tak sempat.

Tak sempat atau tak niat? Atau bahkan sengaja untuk tak dijawab?

Baiklah, memangnya siapa untuk memaksa untuk meminta sua hanya untuk sekedar menjemput rindu yang tak mau tua? Bukan siapa-siapa. Iya kan?

Jadi, rindu adalah persoalan mengungkapkan. Entah dalam bait bait permohonan dalam lipatan tangan kepada Tuhan;

atau mengungkapkan secara langsung walau tau kau hasilnya akan menyakitkan; dibuang atau pesanmu dibiarkan. Membuatmu menunggu entah sampai kapan.

Bandung, 14 April 2018

Francesco Satria

Iklan

Aku, aku, aku…

Bandung sepekan terakhir di selimuti langit kelabu, entah apa maksudnya, seakan semesta sedang memberi tahu, bahwa rindu yang sudah mulai reda tak boleh sirna. Pelataran jalanan menjadi saksi diam bahwa ternyata rinduku terdistraksi oleh kesibukan-kesibukan yang kuusahakan dalam-dalam untuk sekedar melupakan. Melupakan segala bentuk sakit yang belakangan ini mengikuti, yang perlahan menyeruak, membuat asa untuk hidup seakan rusak.

Kau tahu, apa yang sedang kunikmati sekarang? Duduk di kemudi, dibawah temaram senja yang datang bersama rintik gerimis yang membuat hati meringis. Mengingat segalanya. Semuanya. Dimana kau menjadi motif utama cerita. Awalnya berharap bahagia, ternyata diujungnya menggoreskan luka.

Aku yang mencintaimu dengan utuh, kau mencintaiku hanya separuh. Aku yang berharap setiap hentakan amin menjadi kenyataan, nyatanya hanya menjadi sebuah bayang-bayang yang sekarang menguap menjadi sebuah angan.

Kau tau, aku sedang berlari untuk menyembuhkan hati. Berlari sejauh mungkin agar aku bisa melupa. Menghapusmu dalam kepala. Berusaha melarikan segala bentuk derita luka yang kau tinggalkan. Meluruhkan gemuruh kata cinta agar aku bisa melanjutkan cerita-cerita lainnya.

Berlari terus berlari, sembari menancapkan bait-bait belati puisi untuk mengusirmu pergi. Dan, kupikir aku berhasil membunuhmu, tapi ternyata aku salah.

Kau masih disana. Hadir. Hidup dalam setiap deretan kata-kata rindu dalam larik-larik syair yang tak pernah sekalipun berani kuberikan. Hanya berani kutuliskan dengan degup harapan kau akan membacanya, mengerti, bahwa aku masih disini. Menanti.

Aku tak punya nyali untuk menyampaikan rindu yang begitu menggebu, terlalu ragu-ragu bahwa kau akan menolaknya, mengatakan bahwa kau tak lagi disana. Hatimu tak lagi tersedia untukku. Aku hanya berusaha menyembunyikannya sendirian, membenamkan rindu yang keras kepala meminta diutarakan. Menyakitkan? Iya. Tapi itu lebih baik daripada aku menyampaikannya dan skenario imajinasiku diatas terjadi. Aku tak sanggup menderita untuk kesekian kali.

Lalu, kini selagi gerimis yang menemani, setiap rindu yang hadir dalam kepala, kusampaikan dalam sebuah doa. Menjagamu dalam sujud kepada pencipta. Walau aku yakin kau tak akan pernah tahu. Biarlah. Mencintaimu dalam bisu menjadi pilihan teraman untuk menyelamatkan hatiku dari sakit tak karuan karena melihatmu sekarang mampu melepaskanku yang kini sendirian.

Dan kau tau hal paling menyedihkan dari sebuah perpisahan? Orang yang dulu mati-matian memintamu untuk bertahan, tetapi sekarang memilih untuk berjalan sendirian. Melepaskan genggaman lalu pergi meninggalkan. Tanpa sebuah pesan. Tanpa sebuah catatan.  Hanya sebuah sakit yang tak bisa dijelaskan.

Bandung, 20 Maret 2018

Rumah Sakit Khusus Ginjal Habibie,

Francesco Satria

Aku Yang Hampir…

Aku pernah di satu masa ketika aku tak ingin membangun apa-apa. Setelah patah yang membuatku pasrah, kau datang dengan tanpa rasa bersalah. Awalnya aku bersikap biasa saja, tak pernah menganggapmu istimewa karena aku tau diriku sedang berusaha untuk kembali seperti biasa.

Kau hadir saat aku sedang memaki takdir. Mencaci semesta dan segala bentuk cerita yang membuatku derita. Kau hadir dengan sebuah ulasan sunggingan biasa. Lengkungan biasa yang ternyata mampu membuatku jatuh ke dasarnya. Sapaan sederhana, ajakan untuk mengantarmu yang awalnya kau tolak tapi akhirnya kau iyakan, duduk dibawah temaram senja yang ditemani rintik hujan, pelukan di lingkaran pinggang dibawah payung ketika rinai menerjang adalah beberapa kenangan yang kita ciptakan ketika kau dan aku memutuskan untuk menulis bagian hidup bersama.

Hingga akhirnya cerita itu sekarang hanya menjadi sebuah memori belaka. Menjadi pengusik ketik sepi berbisik. Menjadi pilu ketika rindu sedang menggebu. Cerita singkat untuk cinta yang begitu padat. Cerita sejenak tapi tak pernah terhapus dalam benak. Cerita dimana ada lelaki yang tak pernah melupa paras seorang wanita walau sudah menjelajah ke ujung dunia.

Aku yang hampir menghapusmu. Tapi ternyata Tuhan kembali menghadirkanmu dalam mimpi-mimpi belakangan ini. Entah apa maksudnya. Aku yang sedang menabuh bahagia dengan berusaha menggerusmu dalam kepala, ternyata tak pernah bisa. Sejauh apapun aku pergi, seberapa banyak apa yang kulakukan untuk bersenang-senang, ternyata rasanya tetap berkurang; karena kau tak lagi di genggaman.

Aku yang hampir merelakanmu, karena aku tahu bahwa memaksamu untuk bersamaku tak akan membuatmu merasa bahagia. Tetapi semesta kembali menguji ketika bayangmu kembali menghantui ketika hitam sedang menduduki cakrawala. Hitam yang mengusik kenangan yang ternyata membuatku kecanduan untuk terus mengingatmu- walau hanya sebatas angan.

Aku yang hampir melupa tapi ternyata kau masih berada dalam urutan teratas atas definisi bahagia. Bahagiaku lebih tepatnya.

Bandung,

27 Februari 2018,

Francesco Satria

#14DaysRunAway (Part I)

HAI HAII SEMUA PEMBACA SETIA GUEE! MASIH STAY TUNE KAN DI BLOG KESAYANGAN LU PADA NEEEH, MAAP YEE BARU LAMA NULIS TRAPELING LAGI (karena gue lagi ditanah sunda, jadi bukan traveling tapi trapeling) *apaansih*

Perjalanan ini gue lakukan setelah menepati janji sebagai lelaki yang bertanggung jawab, ganteng, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan suka beternak cicak,  ke nyokap gue kalo gue akan lulus kuliah 3,5 tahun dengan status kelulusan “dengan pujian”. Sombong dikit lah ya, karena semenjak 2018, gue punya hobi baru: SOMBONG! dan olahraga baru! Panjat! Panjat social social lebih tepatnya HEHE *apaan sih* *maap atas ketidakjelasan ini kaya kamu sama aku HEHEHE* *oke fokusfokus* Netijen berkata apapun qu taq peduli. Biarin gue menjadi sobat misqin, asal sombonk!

Gue merelakan tidak pulang saat natal dan tahun baru untuk kali pertama sendokir cyinn~~ demi menyelesaikan skripsi. Menunda segala bentuk liburan demi sebuah gelar S.Ab. :”) akhirnya gue sarjana woi!! tepuk tangan dulu laaahhhh semua *plok plok plok plok* *kok kaya bunyi apa ya* *ifyouknowwhatimean*

OKAY FOKUS! itu sedikit flashback cerita sebelum gue jalan-jalan. Kalo kebanyakan flashback itu namanya reuni, jadi dikit aja. Gausah banyak2, gua tampol juga nih.~

Kali ini gue akan menceritakan perjalanan yang lumayan panjang mengeksplorasi keindahan Indonesia. Setelah Agustus 2017 kemaren gue ke Jogja, sekarang destinasi lain adalah Jawa Timur. Yang belom baca tulisan jalan-jalan gue di Jogja, bisa mampir aja kesini yak:

Jogja

For sure, buat kalian yang ngerasa kalo Indonesia ini ancur, ato apapun kalian kemakan sama media, kalian coba jalan-jalan ke arah timur Indonesia. Gue berani sumpah, kalian bisa kencing sambil kayang kalo ngeliat betapa negri Ibu Pertiwi ini indahnya ga ketolongan.

Perjalan ini akan disertai dengan hestek #14DaysRunAway akan sangat panjang karena terbagi dalam beberapa scene tulisan, jadi stay tune yaa. Ini bukan pamer, sesuai kata Bung Piersa, “Tak semua perjalanan tentang memamerkan senang. Beberapa diantaranya tentang mengobati hilang dan menemukan pulang. Sedangkan perjalananku ini adalah tentang merelakanmu. “

SOO HERE WE GOOO! Gue berangkat dari kota kembang dengan modal diri gue yang ganteng, e-ticket kereta ekonomi seharga 249.651 rupiah sajaaaa dan segala macem harta karun di tas kerir gue. Gue udah sempet googling kesana kemari, kalo perjalanan Bandung-Malang itu 16 jam. Lu pada bayangin, 16 jam lu duduk di kereta,dan setelah turun, gue berjanji lu tidak akan merasakan betapa lu punya bokong yang indah~

Tapi apalah daya yekan, (yekan tuh imbuhan kaya ya kan, gausah protes), gue penasaran rasanya apa sih 16 jam duduk di kereta kelas ekonomi, merasakan penderitaan sedikit~ (padahal aslinya karena gakuat buat beli yang kelas eksekutif HAHAHAHAHAH :”””””)) ) TAPI INGAT PRINSIP KITA DIATAS TADI “BIARIN MISQIN ASAL SOMBONK”

Jadilah akhirnya gue caw dari Bandung untuk merasakan surga kecil di Jawa Timur dengan menumpang kereta kelas ekonomi selama 16 jam.

*playlist Ada Band* *INIKAAAH SURGA, CINTA YANG BANYAK ORANG PERTANYAKAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNN*

Berangkat jam 15.45 WIB dari stasiun Bandung, dan sampai di stasiun Malang pada pukul 07.05 keesokan hari nya. Bisa bayangin apajadinya pantat gue pas nyampe? Iyak tidak berbentuk. Tidak bohai lagi :)))

Screenshot_20180219-181023.png

16 jam cyin di kereta~~

*skip*

Gue nyampe stasiun Malang dengan keadaan sangat kucel, tidaq mandi, rambut bau kecoa, dan yuknow lah, hancur semua hancur. Perut sangat sakit karena gue tidak mau beraq di kereta, karena tidaq nyaman~ bayangin aja kalo luu beraq di kereta, goyang sana sini, nanti ta* nya meleber kemana2 HAHAHA

Dan begitu sampe, kalian bayangkan apa yang terjadi? BAYANGKAN KUOTA GUE TIBA2 NOL! HABIS SODARAH SODARAAAH! MAU JADI BACKPAKER SIH TAPI KALO HAPE INI TIDAK PUNYA KUOTA, APALAH GUNA HAPE INII???

Gue baru sadar kalo provider gue itu kuotanya kuota lokal doang yang gede, yang seluruh Indo cuma 500mb :)) mood sudah berantakan pagi itu, dan gue bingung karena tidak ada yang menjemput :”) Btw gue ke malang ini gambling, gada yang jemput, ga kenal siapapun, gapunya sodara, gapunya temen yang deket banget yang bisa gue mintain tolong buat nginep. Gue cuma minta tolong temen-temen sosial media Instagram gue apakah ada yang bersedia menemani hingga akhir hayat nanti gue untuk jalan-jalan di Malang. Sebagian besar gabisa ternyata, yang bisa cuma @motretsembarang dan @aldyrizky.a , tapi si aldy ini lagi ke Bromo dan baru bisa besoknya buat nampung gue, sedangkan si om motretsembarang ini masih otw dari surabaya demi ketemu gue, jadi yaa gue beneran fix jadi gembel. Oiya kalian bisa cek instagram mereka buat cuci mata kalo jenuh sama penatnya kota~~ EAAAAA. Sedih yak cuma dikit yang bisa nemenin? Sedih sih tapi itu bagian serunya #RunAway sesuai judul diatas. Gue gamasalah gada yang nemenin, asal dompet masih ada saldo, semua aman bosque~

Akhirnya dengan perasaan gontai, gue dan dia dengan napas yang menderu mulai masuk kamar, melepas satu per satu pakaian yang kami pakai dan kami mulai bercumbu berjalan kesana kemari tidak tau tujuan, mencari toko bernama Indomaret ato Alfamart buat beli pulsa. Gue pede aja jalan soktau, dengan keadaan Malang pagi itu tuh masih sepi. Mau pesen gojek tapi gue gapunya paketan, jadi lah gue beneran jadi gembel tanpa arah dan tujuan~~

Gue jalan mengikut petunjuk jalan, dan kaki gue mengarah ke salah satu spot wisata namanya “Kampung Warna Warni Jodipan” nanti gue akan share pictnya dibawah. Tapi karena berhubung yang urgent ini tuh nyari konter pulsa, gue menanggalkan sedikit nafsu buat motret demi mencari jati diri di Malang melintang ini.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya gue menemukan titik kesenangan dia dan dia memilih menyerah mengikuti permainan gue ALFMARTTTT!!! senengnya minta ampun karena selain beli pulsa untuk kuota, gue juga beli makan. Selain kuota penting untuk mencari informasi, pesan gojek, lagi2 kuota berfungsi sebagai penunjang hobi gue yang satu lagi: PANJAT SOSIAL! HARI GENEEEE KAGA UPLOAD MANJAAAH DI STORY TUH GIMANA GITCU KAAAN? 3 PRINSIP DALAM HIDUP GUE SEBAGAI ANAK MILENEAL JAMAN NOW “HARTA, TAHTA, SOSIALITA”~~~

Setelah mengisi kuota untuk pamer pamer di sosial media, gue akhirnya jalan lah yekan ke kampung warna warni Jodipan itu sembari nunggu si om @motretsembarang ini nyamperin ke Malang dari Surabaya. Kesan pertama yang gue liat dari Kampung Warna Warni Jodipan aka KWJ ini adalah UNIK! Asli warna warni gitu. Nih fotonya!

DSC00716.JPG

salah satu spot di KWJ

DSC00717.JPG

salah satu spot di KWJ

Gue pikir ini tuh tempat apaan yak, jadi gue masuk dan coba telusuri sendiri. Ternyata setelah gue baca sejarahnya yang ditempel dibawah jembatan hits (gue ga sempet foto disini karena panasnya naujubila), kampung ini tuh salah satu kampung terkumuh di Malang. Dan akhirnya setelah diskusi sana sini, di relokasi, ditata ulang, dicat sana sini, akhirnya nih kampung jadi kerawat banget. Jadi tempat wisata pulak. Disana ada spot hitsnya katanay sih Jembatan Kaca pertama yang mampu nahan 50 orang yang berdiri diatasnya.

Gue bener-bener geleng-geleng kepala karena asli, kampung ini tuh dibawah jembatan, dan dialirin sungai. Lu pada tau lah kampung-kampung dibantaran sungai itu tuh kumuhnya kaya apa, tapi disini disulap jadi luar biasa. Buat yang mau ke Malang, cobain untuk main kesini deh. Lumayan juga ngedukung warga disana dalam segi ekonomi.

Harga tiket masuknya cuma 3 ribu perak! Asli kaga boong, tiketnya kaya berupa stiker gitu, katanya sih buat dana kebersihan dan keamanan. Gila 3 ribu doang. Di bandung parkir aja udah 2 ribu sendiri ckckck. Jadilah disana gue muter sendiri kaga jelas sekalian gerakin badan akibat duduk 16 jam di kereta~~ Sekali nyelam minum air vodka~

Setelah cukup puas jalan kesana kemari nggak jelas, gue memutuskan untuk nyari hotel via Traveloka. Nyari yang harga murah aja, karena gue cuma pengen mandi, istirahatin badan doang. Dan dapet lah hostel seharga 50ribu. WKWKWKWK. Kaga percaya? Beneran 50ribu. Hostel buat backpakeran gitu sih, gue juga mikir ini hotel gocap yang tinggal kunti, tuyul kali yak HAHAHAHA. Nih kalo ga percaya heuuu~

Screenshot_20180219-181051.png

hostel harga gocap WKWKW

Review di Traveloka sih bagus ya, cuma karena badan gue udah lengket banget, jadi gue book dan tidak berekspektasi hotelnya bakal bagus ato apa sih. yaa harga segitu, mau minta ada kolam renangnya mah, paling abis itu gue dikulitin sama yang punya. Lagian gue juga gabisa berenang ini ah~~

Sampe di hotel menggunakan angkutan transportasi ijo ijo, gue nyampe daan istirahat mandi dll karena badan gue udah bau septitenk. Daripada gue nanti dituntut pemerintah Malang karena menyebabkan polusi udara, jadi yaa mandi dulu yaa!

(bersambung..)

Lalu mau tau kisah selanjutnya? Besok lagi yak, cape ngetik vroh!

Surat Untuk Februari

Semilir angin senja berhembus kencang di dalam kerumuman kota. Melirik angka di jam tangan tua, ternyata sudah pukul lima lebih dua puluh tiga. Sebentar lagi gelap tiba. Tak tala langit jingga perlahan luhur digantikan temaram, gemercik hujan turun membanjiri bumi, membuatku kembali menatap dengan nanar bahwa hari ini adalah tanggal dua di bulan dua. Tepat satu warsa, cerita bahagia ternyata hanya menjadi sebuah kenangan yang membuat luka.

Langit kembali bergereliya. Seakan semesta sedang bercerita kepada seluruh penjuru isinya, bahwa kini aku hanya tinggal sendirian. Tanpamu. Kenangan yang awalnya sudah mereda, kini disiram lagi oleh rinai hujan yang membuat kembali menyeruak. Mengaduk perasaan ketika pandangan yang kuedarkan, membawaku ke tempat dimana dulu kita pernah berbagi tawa.

Semua berbeda. Walau setiap inci sudut kota masih sama, namun terasa begitu asing. Terasa begitu lain. Kamu yang biasa duduk di belakang motor tua, mengalungkan jemari di pinggang, lalu menyenderkan kepala di punggung seraya berkata “kita akan menikmati ini sampai tanganku tak sanggup lagi melingkarkan di tubuhmu”, sekarang hanyalah sebuah cerita usang yang jika diingat akan mengundang rindu untuk masuk, lalu menggerogoti hari.

Semua berbeda. Walau irama lagu rindu tetap pada nada-nada awalnya, namun terasa begitu ganjil. Ganjil karena tak lagi genap. Ganjil karena yang awalnya berdua, kini hanya seorang diri saja. Karena kamu tak lagi disini. Tak lagi menemani untuk berdendang, membiarkanku sendirian, mengalunkan melodi sumbang yang dulu selalu kita tertawakan dibawah temaram layung cakrawala..

Semua terasa begitu canggung. Ketika waktu itu kita tak sengaja bertemu, saling bertatapan, dan ah senyumanmu ternyata masih mengguncang. Sederhana, tetapi rasanya begitu istimewa. Senyuman yang dulu kutunggu ketika aku sedang menunggu untuk menjemputmu, lalu kamu datang dengan lari-lari kecil yang menggemaskan kemudian menyunggingkan senyuman yang begitu menghangatkan.

Terima kasih karena telah pergi.

Terima kasih karena telah berlalu.

Terima kasih karena pernah memilih untuk menemani, berjanji untuk membelai rambut yang memutih dengan jemari keriput.

Terima kasih karena akhirnya memilih untuk menyerah.

Terima kasih atas segala cerita, upaya, dan bentuk apapun untuk melihat semesta hingga tutup usia dengan jemari bertautan.

Terima kasih. Karena pergimu, menyadarkan bahwa mencintamu tak akan pernah usai walau ragamu sudah tak bisa digapai.

Jogjakarta, 11 Februari 2018,

ditemani rinai yang mengaburkan senja

Francesco Satria

Kau Adalah…

Kau adalah wanita tak biasa,

Tidak pernah menunjukan bahwa dirinya kecewa walau semesta berulang kali memberi derita. Menutup luka dengan sebuah senyuman sederhana yang kuanggap istimewa.

Kau adalah wanita yang luar biasa,

Tidak pernah menunjukkan air mata ketika sedih sedang menjadi tema. Diam adalah caranya untuk menertawakan gundah gulana.

Kau adalah wanita yang mampu meluruhkan duka dalam kepala, dengan sebuah lengkungan yang terlipat yang selalu menjadi candu ketika bibir kita bertemu.

Tidak pernah mengeluh ketika aku sedang menyebalkan ketika cemburu membutakan. Tidak pernah mengerang kesakitan ketika Tuhan sedang memberi cobaan yang terkadang tak bisa diterima oleh sebagian orang.

Kau adalah sesuatu yang luar biasa, yang membuatku jatuh ke dalam lubang terdalam bernama cinta tak berkesudahan.

Selalu berusaha untuk membuat masalah apapun menjadi ringan dengan mendekap, memeluk lalu berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Kau, adalah sesuatu yang menurutku ciptaan terbaik dari Sang Tuan.

Hingga akhirnya kau memilih untuk berlayar sendirian, meninggalkanku yang ternyata tak pernah bisa melupakanmu. Melupakan semua keistimewaan yang tak bisa kutemukan dalam diri siapapun.

Dan dari semua alasan yang tertera di atas sana,

Kau adalah bagian terbaik yang pernah menemani perjalanan cerita. Bagian terindah yang semesta ciptakan

Kau, yang secara sederhana membuatku jatuh kepadamu secara tak terduga.

Kau, yang akhirnya selalu ku sesalkan karena sekarang hanya bisa ku pelihara di dalam kepala, yang hanya bisa kurindukan melalui bait-bait cerita, yang ketika rinduku mengerang, hanya bisa kulampiaskan pada kidung-kidung puisi sendu.
Kau, adalah bagian dalam diriku yang menjadi sebuah cerita singkat dengan cinta yang begitu padat.

Jogjakarta, 3 Februari 2018,

Dalam perjalanan menuju Malang, yang sedang merindukanmu dalam diam,

Francesco Satria

Perkara Mengikhlaskan

Nowplaying #Rewrite The Stars – Ost. The Greatest Showman

Malam menjadi sebuah ironi. Ketika semua orang beranjak untuk memasuki alam mimpi, berlari dengan waktu untuk merebahkan diri ketika sepanjang hari diguncang dengan banyaknya kejadian yang semesta ciptakan, tetapi aku malah sebaliknya. Setiap malam tiba, aku hanya terdiam, terpaku. Melihat dalam keheningan malam, yang ketika kusadar tahun sudah berputar, bertambah 1 dan ternyata kau masih menjadi tema yang tak kunjung pudar untuk kuceritakan.

Kau tau aku disini masih benar-benar menanti kabarmu, benar-benar menunggu sebuah cerita darimu. Apapun cerita tentang bagaimana kau menjalani hari, menantikan esok hari,bercerita tentang banyaknya mimpi-mimpimu yang bergerilya; yang kuharap bahwa aku juga ikut ambil bagian dalam gerilya mimpi-mimpi yang kau kejar dan kau amini. Nyatanya itu hanya sebuah imajinasiku saja  hehe.

Masih ingat ketika kita bertemu di ujung jalan petang itu? Aku tak menyembunyikan apapun kepadamu karena memang begini adanya, dari awal kita beradu tatap, hingga semesta merusak (dibaca saat kita berpisah): rasa itu tak pernah buyar; debarnya masih mampu membuat sekujur tubuh bergetar. Rasanya masih sama ketika dulu tawa sederhanamu mampu mengguncang seisi kepalaku. Menerjemahkan di dalam kepala bahwa ternyata malaikat bisa tertawa juga.

Tetapi kau memilih berpaling ketika pandangan kita bertuburkan. Memang yang terjadi sekarang adalah bagaimana dirimu berusaha menjauh, berlari ketika akupun berlari ke arahmu. Bagaimana dirimu mengacuhkan setiap notifikasi pesanku, mengurungkan niat untuk membalasnya; atau malah menganggap bahwa dentingan pesanku hanya sebuah perusak keadaan.

Sebetulnya aku sudah menanamkan dalam-dalam di dalam kepala bahwa melupakanmu adalah bentuk keharusan. Tetapi memang kenangan ini tidak tau diri. Ditambah lagi jemariku ternyata senang menari untuk mengejamu kembali dalam bentuk puisi.

Puisi yang berupa kumpulan kata-kata berkiasan yang sederhana tetapi untukku terlalu banyak makna untuk menggambarkan sesuatu yang takbisa diungkapkan: luka, rindu, senyummu, hangatnya tatapanmu. Kata-kata yang menjadi irama dan membuat jemariku dengan senangnya berdendang. Menari sembari menemani dan menghibur hati yang selalu menyendiri selepas kau pergi.

Yang pada akhirnya puisi-puisi itu mengajariku bahwa menanti itu adalah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan atau mengikhlaskan.

Jika mendapatkanmu adalah arti berjuang dengan cara menunggu ketika semesta memberi restu, aku bersedia.

Jika mengikhlaskanmu adalah arti berjuang, maka kau perlu tau, bahwa ada seorang lelaki sederhana, yang keras kepala. Lelaki yang selalu meminta satu nama ketika berdoa kepada Tuhannya. Lelaki yang tak bisa berlari kemanapun, yang hanya berputar kepada satu nama: dirimu.

Dan lelaki itu aku; yang berusaha mengihklaskanmu.

Karena mengikhlaskanmu bukan tentang kekalahan ketika aku melihatmu sedang bersenang-senang. Tetapi tentang bagaimana aku terbangun dari ilusi bahwa hidupmu jauh lebih baik dan tenang tanpa aku di dalamnya.

Bandung, 13 Januari 2018

Tulisan pertama di 2018!

Francesco Satria