Karena, Mencintaimu Dalam Diam adalah Cukup Rasanya. Sesederhana itu, Sesingkat itu.

Teruntuk malam yang datang bersama ribuan rindu yang digenggam, mengetuk langit-langit kenangan, memaksa untuk masuk walaupun sudah kularang. Aku benci kalian. Sungguh. Aku benci ketika malam hadir menjadi tamu rutin bersama rindu yang tanpa ragu ikut untuk hadir hanya untuk membicarakan sebuah tajuk- tentangmu yang dulu pernah bersamaku.

Walau akhirnya aku mempersilahkan mereka masuk dengan tatapan yang memilukan. Mereka hadir, duduk manis hingga pukul dua, saling bertukar cerita tentang kamu yang menjadi alasan dibalik terciptanya rentetan puisi-puisi.

Semuanya masih tentangmu, tentang bagaimana kamu tersenyum diawal perjumpaan kita dulu, tentang bagaimana jemarimu mengerat ketika gemericik hujan mulai menggigilkan kita berdua, tentang bagaimana kita membelah jalanan kota menghindari polisi yang sedang mencari mangsa, tentang bagaimana kepalamu yang bersender di dadaku, menangisi rencanamu yang diberantakan oleh semesta. Tentang bagaimana-bagaimana yang lain yang terlalu banyak diceritakan yang membuat luka kembali merekah ke permukaan.

Dan ini aku, tetap disana, melihatmu tanpa berani menyapa, hanya berujar dalam lantutan doa agar kau senantiasa baik-baik saja.

Aku bukan seseorang yang dulu lagi sayang. Kepergianmu mengajarkan banyak hal. Mengajarkan bagaimana ternyata pergimu membawa semua diriku. Tapi nyatanya aku masih tau diri lah. Menjadikanmu pasanganku? Aku mau. Tapi semesta tak suka berkonspirasi agar kau bisa bersamaku lagi. Jadi melihat namamu dalam kolom notifkasi membalas pesanku saja untukku sudah begitu luar biasa.

Sejujurnya, aku hanya ingin menjadi bagian ketika pagi datang, aku menjadi orang pertama yang kau cari menceritakan mimpi-mimpi seram yang membuatmu susah memejamkan mata. Aku hanya ingin menjadi bahu yang akan selalu kau cari ketika kau merasa dunia sedang tak berpihak padamu. Aku hanya ingin menjadi orang yang dicari dan dibagi dalam wujud pelukan, ketika bahagia sedang menggerogoti hatimu. Aku hanya ingin menjadi bagian dalam sujudmu dan barisan doa yang kau utarakan kepada Dia.

Tapi aku memilih diam.

Karena aku takut untuk mengutarakannya, takut kamu beranjak pergi untuk kesekian kali jika aku menceritakan rindu yang menggebu. Jika aku berkata tentang rasa yang tak pernah sirna.

Karena, mencintaimu dalam diam adalah cukup rasanya. Sesederhana itu, sesingkat itu.

Bandung, 14 Novembre 2017,

 

Sedang mengetik dengan laptop yang ancur gakaruan,

Francesco Satria

Iklan

Kisah Tentang Seorang Perempuan

#nowplaying Imagination – Shawn Mendez

Ini kisah tentang seorang perempuan yang dulu berada dalam pelukan.

Tentang seorang perempuan yang punya rona yang tak bisa diungkapkan oleh barisan aksara yang begitu menggugah jiwa.

Tentang seorang perempuan yang selalu berbinar dan memancar aura yang mampu membuat siapapun tergeletak tak karuan.

Tentang seorang perempuan yang selalu tersenyum tawa dikala hujan dan luka menjadi tokoh antagonis cerita.

Tentang seorang perempuan yang pandai membuatku selalu berandai-andai tentang bahagia yang terurai jika dapat bersanding bersua melabuhkan usia hingga ajal menerpa.

Tentang seorang perempuan yang mempunyai ruang tersendiri dalam hati.

Tentang seorang perempuan bergelar kamu.

Aku iri dengan sejawatmu sayang. Mereka berdekatan, menyenangkanmu, melukis tawa dalam raut wajah sederhanamu, melempar cerita yang membuatmu begitu ceria. Lalu aku? Bersahabat erat dengan asa dan angan, mereka membantuku jemariku melipat, memanjat doa kepada penguasa langit jingga agar aku juga bisa ambil bagian dalam menghidupkan dan menggoreskan warna dalam hidupmu kelak.

Tapi apalah arti bersahabat dengan angan jika semua itu hanya menjadi sebuah ilusi karena kenyataan tak pernah mendukungku untuk melengkapimu sebagai pasangan.

Jadi ini yang kulakukan sekarang;

Dari kejauhan melihatmu, walau tanganku tak sampai untuk kembali mengajakmu berjalan berdampingan dan melindungimu, walau aku bukan pembuat cerita yang mampu menghadirkan bahagiamu- aku akan tetap bahagia, karena lengkungan bibirmu adalah alasan aku untuk tetap bernafas lega.

Karena Aku tak Akan Pernah Sanggup Lagi; Melihatmu Kecewa.

#nowplaying Shape Of My Heart – Backstreet Boys

Hari minggu kemarin, aku terduduk di dalam gereja, menatap nanar ke depan altar, berkumandang, berkomat-kamit untuk sekelibat doa kepada yang kuasa untuk memintamu lagi. Hehe maaf aku tidak tau malu, selalu memintamu. Tapi setelah itu aku sadar, kawanku pernah berujar, “jangan pernah meminta yang berlebihan kepada Tuhan, mintalah sesuatu untuk dicukupkan, dan kamu akan merasa terpuaskan”. Jadi ya aku berdoa saja, agar kau baik-baik saja.

Maaf kalau aku masih sering memaksa Tuhan agar aku bisa bersamamu lagi untuk kali kedua. Masih sering berimajinasi bahwa kau akan mendampingi, masih sering bernostalgia ketika dulu kita pernah berjumpa kali pertama, ketika aku jatuh ke dalam sebuah senyuman yang tak bisa kuuraikan melalui kata-kata.

Masih sering tertawa (walau hatiku suka berdenyut menderita) kalau mengingat-ingat ketika dulu kita saling berbagi tawa, melempar canda, menunggu notifikasi pesanmu ketika kau bilang “aku takut hujan, aku ngga pernah suka hujan, aku ngga suka sama kilatnya” dan kujawab “udah, aku disini buat kamu, bayangin aja aku lagi meluk kamu ya”. Ah Tuhan, kenapa semuanya masih melekat erat? Kenapa semuanya masih terikat kuat?

Kamu yang dulu begitu kuagungkan kepada Tuhan bahwa ternyata malaikat itu ada, ternyata puisi-puisi yang kata orang hanya sebuah metafora, ternyata hadir dalam bentuk nyata berwujud kamu. Kamu yang begitu sederhana tapi ronamu membuatku terpesona hingga terpelosok kedalam kubangan yang orang bilang cinta.

Kamu tau, sejak terakhir waktu itu bertemu, aku pikir aku sudah bisa melupakanmu, tapi ternyata aku salah untuk kesekian ribu. Rasa itu, getaran itu, masih ada, bahkan bertambah kuat walau jeda membuat jarak yang cukup membuat sesak.

Hai sayang, kalau kamu sempat membaca surat ini, dimanapun kamu sekarang, sedang apa kamu sekarang, sedang bersama siapa yang mampu menghadirkan tawa untuk,u, atau apapun yang sedang kamu bangun, atau bagaimana caramu menikmati lelucon semesta,

percayalah,

setiap malam, namamu selalu kuteriakan dalam relung diam, memaksa Tuhan agar terus menjaga wajahmu dalam lengkungan senyuman, Bercengkrama dengan sang Pencipta, akan jangan ada yang menorehkan duka dalam riang hidupmu yang gembira.

Asal kamu tau, asal kamu bisa tertawa bahagia, walau bukan bersamaku, untukku itu lebih dari cukup. Tak perlu sempurna, tak perlu aku menggenggam tangamu seperti dulu kala (walau sebenarnya aku ingin). Karena aku tak akan pernah sanggup lagi untuk melihatmu kecewa. Tidak pernah sanggup. Lagi.

Bandung, 13 Novembre 2017,

Sebelum bertempur lagi dengan tugas akhir yang membuat pecah kepala,

Francesco Satria

Kau Tahu Siapa Dia?

Senja ini, patah ini lagi-lagi kembali menggerakan jemariku untuk bermain diatas papan abjad. Menari, menuliskan sebuah kisah tentang lelaki yang tak lagi bisa menemani seseorang dan memberikan pelukan ketika semesta menjatuhkan beban, tentang seorang lelaki yang masih berdiam diri tak beranjak pergi walau hanya sepi yang menemani.

Menyedihkan ya? Iya. Padahal lelaki itu sudah menyiapkan sebuah kejutan dan kecupan ketika jarak memaksa sua untuk jauh sementara.

Lelaki itu sudah menyiapkan sebuah cerita dan lawakan-lawakan yang sebetulnya tak mengundang tawa, hanya untuk membuatnya merasa bahagia.

Lelaki itu juga sudah menyediakan motor tuanya untuk memutar kota kembang, dengan tangannya yang melingkar di pinggang, dan senyum yang mengembang, lalu berhenti di tempat makan kesukaan sembari menikmati kelamnya malam.

Padahal asal kalian tau juga, lelaki itu sudah mempersiapkan perdebatan-perdebatan ringan untuk kembali membenturkan kenangan bahagia saat mereka menembus hangatnya terpaan angin senja. Tujuannya? Membuat dia bahagia tentu saja. Karena yang utama bagi lelaki itu, dia bahagia ketika melihat orang tersebut tertawa. Sederhana? Iya.

Mungkin masih banyak rencana-rencana yang tak terhingga hanya untuk memberikan warna dan riak tawa pada orang tersebut.

Kalian tau siapa lelaki itu? Aku.

Kalian tau siapa orang itu? Dirinya (yang tak mungkin kutulis disini). Dia yang ternyata sudah berlari entah kemana. Sedang aku? Masih saja menanti walau patahnya sudah ribuan kali.

Semoga saja, ada sebuah restu semesta yang mengutus langit jingga yang akan membawamu kesini; ke dalam nadi. Semoga.

Bandung, 30 Oktober 2017

Dibawah jembatan, bersama seracik senja yang kelabu..

Francesco Satria

Ternyata?

Mengihklaskan dan membuang setiap jejak kenangan ternyata melelahkan.

Walau telah berjuang untuk merelakan dan melupakan, ternyata dirimu acap kali hadir dalam lamunan, menggerus dan mengiris tanggul yang kubangun sejak hari dimana kau memutuskan untuk beranjak berlalu.

Walau telah berkeras kepala untuk tetap ada dan menanti tanpa dengan lapang dada, nyatanya hadirmu hanya sebatas mimpi saja.

Walau telah berceria dengan yang lainnya, pikiranku masih saja menjeritkan namamu ketika sepi tiba.

Walau telah berusaha berlari sejauh ribuan langkah, ada saja sebuah kejadian dimana, bayangmu kembali bertingkah, berlari mengikuti sampai rasanya ingin mati.

Ternyata perpisahan tak pernah sepaket dengan melupakan. Ternyata melupakan tak pernah sepaket dengan merelakan. Ternyata merelakan tak berteman dengan mengikhlaskan.

Semoga kau tetap sedia kala ketika asing menjadi cerita utama kita.

Bandung, 30 Oktober 2017,

Dibawah suatu jembatan, ditemani seracik senja yang kelabu.

Francesco Satria

Mencintaimu adalah Jatuh Terindah, Melupakanmu adalah Patah Terparah

Pernah ada yang memberikan tangan untuk saling bertautan, tapi sekarang hanya menjadi sebuah cerita kusam.

Pernah ada yang berjanji untuk selalu disamping meskipun sekarang hanya proyeksi diri saja yang bersanding.

Pernah ada yang berkenan untuk melakukan apa saja tetapi yang dilakukan ternyata pergi begitu saja tanpa pejelasan dengan sejuta tanya yang membuntutinya.

Pernah ada yang mengucap untuk tak meninggalkan tapi malah menelantarkan tanpa sebuah pesan.

Pernah ada yang berujar agar tetap bersama disaat hujan sedang mendera sembari menunggu pelangi tiba, nyatanya ia malah memilih pergi dan membiarkan basah sendiri.

Aku masih ingat ketika kali pertama aku jatuh, saat kau melemparkan tawa yang menurutku itu tawa terbaik yang pernah kutemu, yang mampu meruntuhkan isi kepalaku.

Tapi sekarang, ia menghilang, menyisakan sebuah retakan patah yang menjerit derita parah.

Hai puan, aku masih menunggumu, masih dengan perasaan yang sama ketika pertama bertemu. Masih tercetak jelas ketika debar dalam dada yang menderu mengencang saat mata kita saling beradu. Ah.

Mungkin aku tak paham sampai kapan aku harus membohongi kepala bahwa kamu sudah tiada. Menyuntikkan rindu dengan puisi agar jeritannya tak perlu merusak hari.

Mencintaimu adalah jatuh terindah, melupakanmu adalah patah terparah.

Semoga kamu baik-baik saja.

Bandung, 9 Oktober 2017,

Francesco Satria

Kamu Pernah? Aku juga pernah.

Pernah merasa bahwa kamu mencintai orang yang masih mencintai masa lalunya? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa kamu merasa seseorang yang berada disisi ternyata tak pernah sekalipun mengisi hati dengan namamu seorang diri? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa kata-kata manisnya membuatmu begitu diinginkan untuk bersama, nyatanya pelukannya hanya sebuah khayalan belaka? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa apa yang kamu perjuangkan untuk sebuah tujuan ternyata malah membuatmu sebuah persimpangan? Aku pernah.

Pernah merasa rindu yang diucapkannya setiap malam tiba yang dikira hanya untuk kita saja ternyata dilantunkan kepada yang lain juga? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa setiap kecup dibibirmu ternyata juga dikecupkan dengan lebih mesra kepada masa lalunya? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa semua kata-kata penenang bahwa tak akan mendua hanya menjadi cemoohan dan kebohongan? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa kamu melewatkan setiap detik bersamanya tetapi hatinya ternyata tidak pernah disana? Aku pernah.

Pernah merasa bahwa kamu diteriakkan bahwa kamu berdusta mendamba yang lain, tapi ternyata pasanganmu melakukan itu untuk menutupi kebusukannya darimu? Aku pernah.

Semuanya pernah aku rasakan, tapi aku menampiskannya. Berusaha untuk percaya bahwa pasanganmu baik-baik saja. Bahwa pasanganmu akan tetap setia menggandeng jemari untuk memutih bersama. Padahal sudah banyak orang yang berkata tentang kebenaran tetapi aku memilih untuk meutup telinga; dengan basis PERCAYA yang pasanganmu agung-agungkan sebelumnya.

Lalu, semesta menampar. Begitu keras hingga sakitnya bukan membuatku menangis meringis. Aku tertawa sampai air mataku habis. Parang yang kuberikan kepadannya untuk menebas masa laluku, sekarang balik menumpas habis semua rasa cinta yang kupunya. Jadi ini rasanya ditikam oleh orang yang kau sayang?

Aku lalu terbangun dari keninaboboan ketika fakta mulai menyeruak ke permukaan. Aku belajar bahwa mencinta juga harus pakai otak, tak cukup hanya mengandalkan hati dan rasa percaya. Hasilnya bisa dilihat? Koyak, rusak dan berantakan tak karuan.

Tapi dari semua itu aku belajar, bahwa ternyata rasa percaya dapat membuat kecewa. Dari rasa kecewa dapat membuat kita menjadi dewasa. Iya kan? Iya untuk mereka yang pernah merasa patah, pernah merasa dijatuhkan setelah ditinggikan.

Jadi, sekarang silakan saja berlalu. Kamu dengan masa lalumu, aku dengan rasa kecewaku. Selamat tinggal, semoga kamu berbahagia dengan pilihanmu itu.

Bandung, 9 Oktober 2017

 

 

Francesco Satria